Serasehan KMAN di Pulau Metu Debi, Injros

Serasehan KMAN di Pulau : Pulau Metu Debi, sebuah pulau kecil di Kampung Injros. Sudah di kenal sejak 7 Maret 1910, ketika Agama Kristen masuk di wilayah Tabi. Hampir setiap tahun, ada peringatan berskala besar dilakukan di pulau ini. Untuk itu, Panitia Lokal KMAN Wilayah Kota Jayapura dan masyarakat adat Kampung Injros menetapkan. Pulau Metu Debi sebagai tempat serasehan Kongres Masyarakat Adat Nusantara.

Serasehan KMAN di Pulau Metu Debi, Injros

“Tempat serasehan di Kampung Injros, sudah kami tetapkan, yaitu di Pulau Metu Debi,” tegas Kepala Kampung Injros. Ruli Merauje di Kampung Injros. Pernyataan Kepala Kampung Injros itu, di benarkan Ketua Panitia Lokal Wilayah Kota Jayapura, Evert Nocolas Merauje. “Ya… tempat serahsehan di Metu Debi,” ujarnya.

Sebagai tempat serasehan

Metu Debi akan di lengkapi dengan sejumlah MCK, Listrik dan berbagai fasilitas lainnya. Masyarakat di Kampung Injros sudah terbiasa melayani ratusan pengunjung yang datang dan melakukan kegiatan di pulau Metu Debi.

Walau begitu, kami warga Kampung Injros membutuhkan dukungan dari Panitia KMAN untuk menata dan melangkapi berbagai fasilitas di pulau ini,” kata Kepala Kampung Injros, Ruli Merauje. Tampaknya, Panitia Lokal Wilayah Kota Jayapura terus melakukan koordinasi dengan masyarakat adat di dua kampung yang bakal di jadikan tempat serasehan KMAN VI.

Sebelum rapat pengecekan persiapan di Kampung Injros, Panitia Lokal Wilayah Kota Jayapura, sudah melakukan rapat koordinasi dengan masyarakat di Kampung Tahima Soroma Kayo Pulau“Rapat ini untuk pengecekan persiapan masyarakat adat di dua kampung di wilayah Kota Jayapura, yaitu, Kampung Injros Kampung Tahima Soroma Kayo Pulau.

 

Kampung Injros atau yang lasim disebut Kampung Enggros ini adalah semua perkampungan masayarakat adat yang berada di Distrik Abepura, Kota Jayapura. Hingga saat ini, Kampung Enggros sudah berkembang yang di tandai dengan berbagai sarana Jalan Jeramba dan sarana penerangan listrik PLN (mendapat aliran listrik langsung dari kota), yang mulai menyala di Kampung Enggros pada 25 Desember 2013, pada masa kepemimpinan Walikota Jayapura, Benhur Tommi Mano (BTM).

Sebagai tambahan, untuk tahun 2015 sudah terdapat 88 unit rumah yang layak huni. Juga, kampung mendapatkan dana pengembangan kampung rutin dari pemerintah. Misalnya, untuk perkembangan pembangunan Kampung Injros mendapat dana Prospek tahun 2015 Rp. 114.920.000. Sedangkan untuk bidang ekonomi terdapat dana untuk kampung Injros sebesar Rp. 80.444.000. Ini tahun 2015.

Meskipun Injros sudah merupakan kampung modern, tetapi masih tetap menjujung tinggi nilai-nilai adat.

Menurut Ketua RT 04/RW 02, Kampung Injros, Marthinus Hababuk, bahwa ikan yang menjadi lambang dari kampung ini. Motto kami. “Satu Jalan, Satu Hati, Kami Bekerja demi Kebesaran kampung,“ kata Marthinus Hababuk, ketika mengantar Crew MC KMAN dengan menggunakan motor tempal ketingting, menuju Kampung Injros pada. Saat ini, jumlah penduduk Injros sekitar 571 jiwa dan 135 KK. Sebagian besar, masih orang warga asli Injros. Walau begitu, ada perkawinan dengan orang luar, namun jumlahnya sangat minim.

Penduduk asli masyarakat Tabati Injros termasuk turunan suku bangsa Melanesia dan digolongkan orang-orang Negroid (berkulit hitam dan berrambut keriting) yang mendiami Teluk Youtefa. Walaupun keduanya dipisahkan dalam dua Wilayah distrik dan dua jemaat GKI, namun unsur-unsur budayanya (cultural universal) yang melekat tidaklah berbeda.

Kebudayaan masyarakat Injros bertindih tepat dengan kebudayaan masyarakat Tabatji. Bagaikan satu koin mata uang yang berbeda kedua sisinya, namun tidak dapat dipisahkan. Perbedaan secara prinsip ada dalam sastra sosial, yang senantiasa tersimpan dengan baik dalam mitos masing-masing Clan.

Dalam perkembangan suku bangsa Tabati Injros, pesanan amanat moyang dan leluhur untuk mempertahankan adat istiadatnya. Tiang utama terbentuknya kampung Injros adalah tiang-tiang asli suku yang membentuk sebuah kampung. Suku atau keret yang membentuk kampung yakni, Suku Anyi (Sanyi), Suku Runyi (Drunyi), Suku Anasbei (Hanasbei), Suku Meraujwe (Meraudje), Suku Semra, Suku Chaai (Haai) dan Suku Hababuk. (Krist MC KMAN).