Papua Barat Memiliki Banyak Wisata

Papua Barat Memiliki Banyak Wisata: Provinsi yang dahulu di kenal Irian Jaya Barat mencakup wilayah Semenanjung Domberai, Bomberai, Wandamen, sampai Kepulauan Raja Ampat. Papua Barat memiliki potensi baik dalam pertanian, pertambangan, hasil hutan, maupun pariwisata. Seperti, Desa Namatota yang masih kental akan kebudayaan dan sejarah masyarakat suku Koiway. Masuk dalam 300 besar Anugerah Desa Indonesia Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  menyatakan desa ini termasuk Hidden Gem Papua Barat Memiliki Banyak Wisata

“Desa Wisata Namatota atau yang bisa kita sebut dengan The Hidden Gem merupakan destinasi yang menjadi gerbang pariwisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang menyuguhkan daya tarik wisata bahari yang sejalan dengan kelestarian laut.

Sebagian besar masyarakat Namatota bekerja sebagai nelayan masih menjalankan adat istiadat nenek moyang sampai sekarang, misalnya tradisi sasi nggama yang melambangkan perasaan syukur akan terjaganya sumberdaya perairan. Bahkan, anda dapat menemukan beberapa jenis ikan unik yang masih di rawat oleh masyarakat Namatota.

Papua Barat juga memiliki perlindungan konservasi hiu paus di Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Kurang lebih 209 jenis ikan, moluska, penyu, serta ekosistem terumbu karang hidup tersebar pada tepian 18 pulau besar dan kecil. Para wisatawan sering menginap selama satu minggu untuk melihat keanekaragaman makhluk hidup, terutama menyelam melihat hiu paus.

Wisata hiu paus di Kwatisore juga di kembangkan sebagai ekoturisme atau wisata alam berkelanjutan. Paket wisata hiu paus di perairan Kwatisore di lakukan oleh operator wisata yang telah mengantongi izin dari Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua.

Berikut detail aturan main sebelum melihat atau berenang bareng hiu paus:

1. Satu kelompok wisata maksimal 7 orang

Di larang menyaksikan hiu paus secara beramai-ramai. Dalam satu perahu, hanya boleh terdiri dari satu kelompok wisatawan. Satu kelompok itu maksimal enam orang atau enam wisatawan dengan di dampingi seorang pemandu. Total ada tujuh orang dalam satu perahu.

2. Mengatur kondisi perahu

Ketika berlayar, perahu harus mengatur kecepatan maksimal 10 knot dalam jarak 1 kilometer atau 2 knot dalam jarak 50 meter dari bagan. Jarak antara perahu dengan hiu paus paling dekat 20 meter. Saat mencapai area yang dekat dengan hiu paus, mesin perahu harus dalam keadaan mati dan dilarang membuang jangkar. Perahu dapat ditambatkan pada bagian tertentu di perairan.

3. Pengarahan kepada wisatawan
Pemandu harus memberikan pengarahan kepada wisatawan sebelum berenang di perairan dekat hiu paus. Cukup pengarahan singkat, sekitar 10 sampai 15 menit dan dapat dilakukan selama perjalanan. Pengarahan ini mencakup ucapan selamat datang dan perkenalan diri, pengaturan waktu dan spot yang dituju, pengenalan tentang hiu paus, aturan berinteraksi dengan hiu paus, dan mempersilakan wisatawan untuk bertanya.

4. Ketentuan saat snorkeling
Saat berada di air, wisatawan harus mengikuti pemandu. Pemandu turun ke air pertama kali diikuti dengan para wisatawan. Di dalam air, pemandu berperan sebagai pemimpin grup yang harus memperhatikan dan siap membatu semua peserta.

Wisatawan yang snorkeling harus masuk ke dalam air setenang mungkin. Jaga jarak untuk memberikan ruang pada hiu paus, sekitar 2 meter dari tubuh hiu paus, dan 3 meter dari ekornya. Penggunaan scuba dibatasi. Maksimal dua pengguna Self-Contained Underwater Breathing Apparatus(Scuba) atau perangkat bernapas bawah air dalam satu kelompok wisata.

Karena lokasinya yang terpencil berada di Teluk Cendrawasih, anda membutuhkan perjalanan penerbangan pendek menuju Taman Nasional mulai di Jakarta, Bali, atau Surabaya. Lalu, melanjutkan dengan naik pesawat kecil dan kapal layar selama beberapa hari.