Dalih Polisi Gunakan Gas Air Mata di Stadion

Dalih Polisi Gunakan Gas Air Mata: Tindakan polisi menggunakan gas air mata saat menangani massa di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur jadi sorotan. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Jawa Timur. Kekacauan yang terjadi di dalam stadion akibat penonton berlari-larian menghindari gas air mata yang di tembakkan polisi.

Penonton berlarian ke arah pintu keluar, sehingga akhirnya terinjak-injak. Dalam peristiwa itu, sebanyak 125 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Penggunaan gas air mata di dalam stadion pun sudah di larang berdasarkan FIFA Stadium Safety and Security Regulations Pasal 19 tentang pengawasan penonton.

Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta

mengatakan aparat akhirnya menggunakan gas air mata karena tindakan penonton anarkis dan di anggap membahayakan keselamatan. Suporter Arema FC atau Aremania memasuki lapangan karena tak terima dengan hasil pertandingan yang memenangkan Persebaya.

Karena gas air mata itu, mereka pergi ke luar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak napas. Kekurangan oksigen,” ujar Nico.  Menteri Koordinator Bidang Politik. Hukum. Dan Keamanan Mahfud MD menjelaskan gas air mata di lepaskan karena penonton mengejar pemain sepak bola. Ia mengatakan sekitar 2.000 orang turun untuk mengejar para pemain. Sasarannya adalah para pemain Arema dan Persebaya yang bertanding.

“Ada yang mengejar Arema karena merasa, kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah di evakuasi ke tempat aman. Semakin lama semakin banyak. Kalau tidak pakai gas air mata aparat kewalahan. Akhirnya disemprotkan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit pun menyatakan bakal mengaudit soal penggunaan gas air mata di Stadion Kanjuruhan. Ia menyebutkan tim akan mendalami standar prosedur operasional polisi yang bertugas di lapangan.

Tentunya tim akan mendalami terkait SOP dan tahapan-tahapan yang telah di lakukan oleh satgas ataupun tim pengamanan yang melaksanakan tugas pada saat pelaksanaan pertandingan. Listyo menyebut ia mendapat informasi bahwa aparat kepolisian juga melakukan upaya penyelamatan terhadap pemain dan ofisial, baik dari Arema maupun Persebaya saat kejadian.

Informasi ini, kata dia, akan menjadi salah satu poin yang akan di dalami dalam proses investigasi tragedi Kanjuruhan. Semuanya akan kita dalami dan ini akan menjadi satu bagian yang akan kita investigasi secara tuntas, baik dari penyelenggara, dari sisi pengamanan.

Total Korban Tewas dan Luka Tragedi Kanjuruhan 448 Orang

Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa total korban yang meninggal dan terluka akibat tragedi Kanjuruhan mencapai 448 orang.
“Hasil akhir dari korban yang sudah diverifikasi semua pihak termasuk Polri dan penyelenggara ada 448 korban,” kata Muhadjir usai rapat koordinasi di Pendopo Panji, Kepanjen, Malang, Senin (3/10),

Muhadjir kemudian menjabarkan bahwa dari total korban tersebut, 125 orang meninggal dunia, 302 orang mengalami luka ringan, dan 21 orang menderita luka berat. Ia berharap dengan pernyataannya, tak ada lagi simpang siur informasi mengenai korban tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai laga Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Sabtu (1/10).

Kericuhan itu bermula ketika skuad tuan rumah,Arema, dinyatakan kalah dalam laga melawan Persebaya dengan skor 2-3. Tak terima, sejumlah pendukung Arema turun dari tribun penonton ke tengah lapangan. Karena situasi kian kacau, kepolisian mengadang penonton, kemudian menembakkan gas air mata.

Namun, gas air mata itu tak hanya di tembakkan ke arah pendukung yang turun ke lapangan, tapi juga ke tribun penonton. Para pengunjung pun panik. Massa lantas berdesak-desakan keluar dari stadion. Di tengah kepanikan itu, banyak penonton mengalami sesak napas, terjatuh, dan terinjak-injak hingga tewas.

Tindakan polisi menggunakan gas air mata saat menangani massa di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur jadi sorotan. Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Jawa Timur, kekacauan yang terjadi di dalam stadion akibat penonton berlari-larian menghindari gas air mata yang di tembakkan polisi.

Penonton berlarian ke arah pintu keluar, sehingga akhirnya terinjak-injak. Dalam peristiwa itu, sebanyak 125 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka. Penggunaan gas air mata di dalam stadion pun sudah di larang berdasarkan FIFA Stadium Safety and Security Regulations Pasal 19 tentang pengawasan penonton.