Asei Pulau yang Jadi Sentra Lukisan Kulit Kayu

Asei Pulau yang Jadi Sentra Lukisan:  satu di antara destinasi wisata Papua yang sayang untuk dilewatkan. Kampung Asei Pulau terletak di Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Untuk mencapai Kampung Asei Pulau pengunjung bisa menggunakan perahu motor dari Danau Sentani, di dermaga Khalkhote, Kampung Harapan.Dengan rute tersebut, pengunjung hanya butuh waktu perjalanan sekitar 15 menit saja.

Sentra Lukisan Kulit Kayu

Kampung Asei Pulau merupakan sentra lukisan kulit kayu. Lukisan kulit kayu merupakan kesenian khas Papua yang populer di kalangan wisatawan. Mayoritas warga di sini ahli melukis di atas kulit kayu yang merupakan budaya warisan dari nenek moyang mereka. kulit kayu yang bisa di gunakan untuk media lukis tak sembarangan.

Mereka menggunakan kulit dari pohon khombouw (ficus variegata) yang memiliki tekstur bagus untuk melukis. Prosesnya pun cukup panjang. Kulit kayu yang di kelupas harus ditumbuk dan di keringkan. Setelah itu baru bisa di pakai sebagai lembaran untuk melukis.

Sedangkan pewarna yang di pakai juga terbuat dari bahan alami seperti arang kayu, kapur sirih, tanah liat hingga tumbuhan. motif dalam lukisan kulit kayu Asei beragam mulai dari fauna dan fauna yang ada di Sentani hingga simbol-simbol keondofian.

Masyarakat Papua, khususnya yang tinggal di Jayapura, pasti mengenal kampung di danau Sentani yang bernama Asei Pulau. Di kampung yang masuk di strik Sentani Timur itu, sebagian masyarakatnya ahli melukis di atas kulit kayu. Bagi mereka, melukis di atas kulit kayu merupakan budaya yang di wariskan oleh nenek moyang masyarakat Kampung Asei Pulau.

untuk menuju ke Asei Pulau bisa di akses dengan menggunakan perahu motor dari Danau Sentani, di dermaga Khalkhote, Kampung Harapan Di strik Sentani Timur. Tapi kalau ingin agak lama dan mau menunggu ombak yang pas, Anda juga bisa mendayung sampan menuju Kampung Asei Pulau. Kalkote adalah dermaga paling dekat dengan Stadion Lukas Enembe, jarak bisa ditempuh dengan waktu tak lebih dari 10 menit, dengan naik kendaraan dari stadion. Selain sebagai sentra lukisan kulit kayu, di Kampung Asei juga terdapat situs gereja tua dan peninggalan sejarah Perang Dunia ke-II.

Sejumlah pelukis mengaku, mereka melukis di atas kulit kayu (khombow) demi mempertahankan budaya warisan nenek moyang. Karena itu corak lukisannya pun tak jauh berbeda antara yang satu dengan lainnya. Mereka melukis tidak sembarangan. Tapi seperti melukis motif tertentu yang punya makna dan itu motif warisan leluhur masyarakat Asei. Khombow merupakan pembungkus tubuh (atau lembar pakaian) yang di pakai oleh nenek moyang masyarakat Asei.

orang Sentani.

karena pada masa lalu sebagai pakaian khombow hanya di gunakan tiga kali dalam kehidupan manusia. Yakni, pertama, di gunakan sebagai pembungkus saat seorang anak lahir. Kedua, di gunakan sebagai pakaian pernikahan atau Malo oleh anak perempuan Sentani. Dan ketiga, di gunakan sebagai pembungkus jasad saat seseorang meninggal dunia.

Satu di antara motif yang masih di lukis adalah motif fouw yang biasanya di kombinasikan dengan motif lain seperti burung, ikan, perahu, manusia dan geometris. Motif ini di lambangkan sebagai simbol kekeluarga dan kebersamaan. Lukisan fouw ini terdapat dalam ukiran yang biasa berada di rumah ondoafi.

Harga

Lukisan kulit kayu Asei di jual dengan harga beragam. Mulai dari harga murah hingga ada yang jutaan rupiah. Yang pasti, lukisan kulit kayu ini merupakan kerajinan tangan yang sangat cocok untuk menjadi buah tangan saat Anda melancong ke Papua.