Asa Mulia Generasi Muda Papua

Asa Mulia Generasi Muda Papua: Meski pembangunan gencar di lakukan, Papua masih belum mampu beriringan kondisi sosial ekonominya dengan daerah lain. Di tengah serba terbatas itu dan bahkan masih di dera kekerasan, generasi mudanya tak mau menyerah. Ada harapan tinggi dan optimisme di benak mereka untuk melangkah ke depan.

Gambaran ini tercermin dari survei. Besarnya harapan generasi muda Papua ini di suarakan mayoritas responden (81,5 persen) baik asli Papua maupun dari keluarga non Papua. Mereka tidak lagi memandang sekat-sekat perbedaan latar belakang budaya dan sosial. Selain itu, survei juga menunjukkan sebagian besar responden (89 persen) generasi muda Papua dan Papua Barat merasakan rukunnya hubungan antar umat beragama.

Kerukunan antar masyarakat ini pun melebar, tak hanya berhenti dalam tenggang rasa beragama. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari responden mengaku merasa bahwa hubungan masyarakat antar suku di Papua dan Papua Barat penuh dengan kerukunan.

Namun, aspek kerukunan generasi muda ini justru memudar ketika bercampur dengan kepentingan politik. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat kerukunan antar para pendukung partai politik yang relatif rendah di angka 55 persen.

Kohesivitas sosial di generasi muda Papua ini tidak hanya terjadi di level meso, melainkan juga di tingkat mikro. Keeratan hubungan antar masyarakat muda ini terkonversi menjadi kepercayaan, bahkan melebihi ikatan kesukuan.

Hal tersebut di buktikan dari hasil survei yang menunjukkan bahwa tetangga menjadi pilihan dari 52,9 persen responden ketika sedang mmebutuhkan bantuan. Angka tersebut lebih tinggi dari orang sesama suku yang di pilih oleh 28,9 persen responden.

Hal ini juga diperkuat dengan potensi ancaman gesekan sosial diantara generasi muda. Bagi mereka, ancaman terjadinya gesekan bukan berasal dari persoalan ideologis atau identitas. Justru, mereka khawatir jika konflik muncul akibat kebiasaan buruk seperti konsumsi minuman beralkohol.

Adil dan bahagia

Eratnya relasi antar pemuda di Papua ini bisa jadi terbentuk karena adanya rasa keadilan. Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi soal perlakuan yang adil berdasar berbagai latar belakang. Sebesar 60,8 persen dari generasi muda merasa bahwa perlakuan yang diterima masyarakat berdasar suku sudah adil. Sedikit lebih tinggi, sekitar 62 persen dari responden juga menyatakan bahwa perlakuan kepada OAP dan Bukan OAP sudah relatif setara.

Tak heran, sebagian besar dari pemuda di Papua merasa bahagia dengan hidupnya. Data survei menunjukkan bahwa lebih dari 85 persen dari generasi muda di Papua dan Papua Barat bahagia dengan hidupnya saat ini. Bahkan, jika di bandingkan dengan lima tahun lalu, sekitar 82 persen dari responden mengaku bahwa kehidupan mereka saat ini sudah lebih baik.

Jika dilihat lebih dalam, kebahagiaan ini bersumber dari pemenuhan aspek kehidupan sosial. Sebagai contohnya, 89,4 persen dari generasi muda Papua puas dengan hubungan mereka dengan keluarga. Selanjutnya, aspek lain yang mendapat tingkat kepuasan tertinggi ialah pergaulan sosial dengan angka di kisaran 85 persen.